Andi Akbar Muzfa - Pengacara Rakyat Dari Timur

Andi Akbar Muzfa: Dari Didikan Pusat ke Lorong-Lorong Timur, Menghidupkan Kesadaran Hukum dengan Kesederhanaan

Makassar -
 Di banyak wilayah Timur Indonesia, persoalan hukum jarang lahir dari ruang sidang yang tertata rapi. Ia tumbuh dari kehidupan sehari-hari: batas tanah yang bergeser tanpa kepastian ukur, warisan keluarga yang dibagi tanpa akta, perjanjian utang yang hanya berbekal kepercayaan lisan, hingga konflik rumah tangga yang berubah menjadi laporan pidana.

Di tengah situasi itu, hukum sering kali hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Bahasa yang rumit, prosedur yang panjang, serta ketidaktahuan akan hak dan kewajiban membuat masyarakat kecil merasa jauh dari akses keadilan. Ketika aparat terlibat, rasa cemas pun muncul seolah hukum adalah wilayah yang hanya dimengerti oleh segelintir orang.

Dalam ruang-ruang itulah Andi Akbar Muzfa memilih untuk berdiri.

Baginya, akar dari banyak perkara bukan semata niat jahat, tetapi ketidaktahuan dan kurangnya pendampingan. Karena itu, pendekatannya tidak selalu dimulai dari gugatan atau laporan pidana. Ia memulai dari percakapan, dari mendengar, dari menjelaskan duduk perkara secara perlahan hingga klien memahami posisinya sendiri. Ia percaya bahwa strategi hukum yang baik lahir dari pemahaman yang utuh terhadap manusia dan konteks sosialnya.

Fondasi Keluarga dan Nilai Integritas
Lahir di Ujung Pandang pada 30 April 1988, Andi Akbar dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung disiplin dan integritas. Ia merupakan putra pertama Kompol Andi Muzakkir, perwira kepolisian yang bertugas di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Sidrap.

Didikan keras namun penuh tanggung jawab dari sang ayah membentuk karakter yang tegas sekaligus terukur. Sejak muda, ia memahami bahwa kewenangan tanpa moral adalah kekuasaan kosong. Hukum, dalam pandangannya, harus berdiri sebagai penjaga keadilan terutama bagi mereka yang tidak memiliki daya tawar.

Nilai-nilai itu kelak menjadi fondasi dalam setiap langkah profesionalnya.

Pendidikan dan Pembentukan Perspektif
Perjalanan akademiknya ditempuh di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada 2006–2011, di mana ia menyelesaikan studi sarjana hukum. Ia kemudian memperdalam perspektif tata kelola melalui pendidikan pascasarjana di bidang Administrasi Publik.

Kombinasi dua disiplin ini membentuk cara pandangnya yang komprehensif. Ia tidak hanya melihat hukum sebagai kumpulan pasal, tetapi sebagai sistem yang berinteraksi dengan kebijakan publik, birokrasi, dan realitas sosial masyarakat.

Sebelum berpraktik sebagai advokat, ia mengabdi sebagai tenaga sukarela di Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sidrap (2011–2016). Di sana, ia belajar memahami bagaimana regulasi disusun dan diimplementasikan. Ia melihat secara langsung bagaimana masyarakat sering kali berada pada posisi yang tidak seimbang ketika berhadapan dengan sistem administrasi negara.

Pengalaman tersebut memperkaya kepekaannya terhadap dinamika struktural dalam setiap perkara.

Ditempa di Pusat: Standar Kerja dan Strategi
Pada periode 2017–2019, Andi Akbar bergabung dengan Lawfirm Bertua & Co di Jakarta Timur. Di kantor hukum tersebut, ia berada dalam lingkungan profesional yang dekat dengan figur pengacara nasional ternama, Hotman Paris Hutapea.

Melalui pembinaan langsung di bawah Managing Partner Bertua Hutapea, ia mempelajari standar kerja tingkat tinggi: disiplin administrasi perkara, ketelitian dalam menyusun argumentasi, serta pentingnya membaca arah strategi lawan sebelum memasuki persidangan.

Di sana, ia menyaksikan bagaimana perkara-perkara besar dengan sorotan publik ditangani secara sistematis dan terukur. Ia memahami bahwa kemenangan bukan hasil spontanitas, melainkan buah dari perencanaan matang dan analisis tajam.

Namun, alih-alih menetap di ibu kota dan mengejar gemerlap popularitas, ia memilih kembali ke Makassar. Keputusan itu bukan langkah mundur, melainkan pilihan sadar untuk membangun dari tanah kelahirannya.

Membangun dari Timur
Sejak 2016, Andi Akbar juga telah merintis aktivitas bisnis yang berkembang hingga 2020, memperluas pengalaman manajerial sekaligus membangun kemandirian. Pada tahun 2020, ia mendirikan Kantor Hukum ABR & Partners sebagai wadah pengabdian profesionalnya di Sulawesi Selatan.

Memasuki 2025, ia kembali melakukan penguatan sistem dengan mendirikan ABS & Partners bersama rekannya. Dalam waktu relatif singkat, kantor tersebut menangani berbagai perkara lintas bidang: pidana, perdata, pertanahan, sengketa bisnis, hingga perkara keluarga.

Meski pernah ditempa di pusat dan berada dalam lingkaran profesional yang prestisius, gaya hidup Andi Akbar tetap sederhana. Ia dikenal tidak gemar menampilkan kemewahan. Kantornya dibangun dengan prinsip efisiensi dan profesionalitas, bukan simbol kemegahan. Baginya, kredibilitas advokat tidak diukur dari tampilan luar, melainkan dari kualitas kerja dan integritasnya.

Kesederhanaan itu juga tercermin dalam cara ia berinteraksi dengan klien. Ia berbicara lugas, tidak berlebihan, dan berusaha menjelaskan persoalan hukum dengan bahasa yang mudah dipahami.

Arsitek Strategi dan Pendamping Masyarakat
Sebagai advokat, Andi Akbar dikenal memiliki kekuatan dalam penyusunan dokumen hukum. Gugatan, jawaban, replik, duplik, pledoi, hingga legal opinion disusunnya dengan struktur argumentasi yang runtut dan berbasis analisis mendalam.

Setiap perkara dipetakan secara komprehensif, mulai dari norma hukum yang relevan, potensi pembuktian, hingga risiko terburuk yang mungkin dihadapi klien. Ia tidak bekerja secara reaktif, melainkan merancang langkah demi langkah secara strategis.

Di sisi lain, ia tetap membuka ruang pro bono bagi masyarakat kurang mampu. Bagi petani yang terancam kehilangan lahan atau keluarga yang terjebak sengketa waris, ia hadir bukan sekadar sebagai kuasa hukum, tetapi sebagai pendamping yang memberi pemahaman dan ketenangan.

Adaptif di Era Digital
Minatnya pada teknologi informasi juga memperkuat kapasitasnya dalam menghadapi perkara berbasis bukti elektronik dan isu digital. Ia pernah terlibat dalam penguatan sistem keamanan jaringan di lingkungan pemerintah daerah serta mendirikan komunitas teknologi di Sidrap.

Kemampuan ini menjadikannya advokat yang adaptif terhadap perkembangan zaman, memahami bahwa hukum modern bergerak seiring transformasi digital.

Menghidupkan Hukum dengan Kesederhanaan
Di tengah dinamika penegakan hukum nasional, Andi Akbar Muzfa menghadirkan kombinasi yang unik: disiplin keluarga aparat, pengalaman birokrasi, didikan profesional di pusat yang dekat dengan figur seperti Hotman Paris Hutapea, serta komitmen kuat membangun kesadaran hukum di Timur Indonesia.

Namun di atas semua itu, yang paling menonjol adalah kesederhanaannya. Ia memilih bekerja dalam sunyi, mendampingi masyarakat yang sering kali tidak tahu harus meminta bantuan ke mana. Ia tidak menjadikan hukum sebagai panggung, melainkan sebagai jalan pengabdian.

Bagi banyak warga di Sulawesi Selatan dan sekitarnya, Andi Akbar Muzfa bukan hanya advokat. Ia adalah penenang di tengah konflik, penjelas di tengah kebingungan, dan pengingat bahwa hukum seharusnya tidak jauh dari rakyat, melainkan hadir bersama mereka. (Miya 10/11)


Komentar